Pemikiran Hermeneutika Ibnu 'Arabiy

 

MAKALAH HERMENEUTIKA AL-QUR’AN

TELAAH PEMIKIRAN IBNU ‘ARABIY

 

 

Dosen Pengampu:

Dr. Luqman Abdul Jabbar, S.Ag., M.S.I

 

 


 

 

Disusun oleh:

KELOMPOK 10

 

 

Muhammad Ramadhan

(12209005)

Nor Hasanah

(12209032)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR

FAKUKTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

TAHUN 2024 M/1446 H





BAB I

PENDAHULUAN

Dalam mengkaji dan memahami Al-Qur'an, terdapat sebuah metode yang disebut hermeneutika. Metode ini diadopsi dari istilah Yunani kuno hermeneuein, yang mengacu pada aktivitas penafsiran. Nama ini terinspirasi dari mitologi dewa Zeus yang berkembang di peradaban Yunani. Ketika diterapkan pada Al-Qur'an, pendekatan ini berupaya mengungkap pengertian yang lebih mendalam, menembus batas pemaknaan harfiah. Pendekatan ini menjadi salah satu cara yang bermanfaat dalam menginterpretasikan kitab suci. Pembahasan ini menyoroti sosok Ibnu 'Arabiy. Perlu diketahui bahwa terdapat dua ulama besar bernama Ibnu 'Arabiy yang berasal dari tanah Andalusia. Pertama, Abu Bakr Muhammad Ibn 'Abd Allah Ibn al-Arabi al-Ma'arifi yang hidup antara tahun 468-543 Hijriah. Beliau merupakan ahli hadis dari Sevilla yang menulis kitab Ahkam al-Qur'an. Setelah mengundurkan diri dari jabatan qadli, beliau mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Kedua, Abu Bakr Muhammad Muhy al-Din ibn 'Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn 'Abd Allah al-Hatim al-Ta'i al-Andalusi. Sosok kedua inilah yang menjadi pusat perhatian kajian ini. Beliau dianugerahi gelar Muhy al-Din dan Syaikh al-Akbar.

Sebagai sufi terkemuka dari Andalusia, Ibnu 'Arabiy dikenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang pemaknaan Al-Qur'an. Pendekatan sufistiknya dalam memahami teks menawarkan perspektif yang khas dan penuh makna. Seiring waktu, para sufi mulai menuangkan pemahaman mereka tentang Al-Qur'an dalam bentuk karya tafsir dengan corak sufistik. Pemikiran Ibnu 'Arabi dalam memahami Al-Qur'an berpusat pada tiga konsep, yaitu takwil, wahdatul wujud, dan kasyf.

Catatan dalam Da'irat al-Ma'arif al-Islamiyyah menunjukkan adanya perbedaan pandangan terhadap pemikiran Ibnu 'Arabiy. Beberapa ulama yang mengkritik ajarannya termasuk Ibn Taymiyyah dan al-Imam Jamal al-Din. Sementara itu, banyak ulama yang mendukung pemikirannya, seperti Majd al-Din al-Fayruzabadi dan Syihab al-Din al-Suhrawardi. Menariknya, beberapa ulama yang awalnya menentang, seperti al-Hafiz al-Dhahabi, akhirnya mengakui kebenaran ajarannya setelah memahami lebih dalam. Al-Dhahabi bahkan menyatakan keyakinannya akan kejujuran Ibnu 'Arabiy, sedangkan 'Izz al-Din bin 'Abd al-Salam mengakuinya sebagai wali qut pada masanya.[1] Hermeneutika Al-Qur’an adalah suatu pendekatan atau metode yang digunakan untuk memahami dan menafsirkan teks Al-Qur'an. Istilah hermeneutika sendiri berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein yang berarti menafsirkan atau menerjemahkan. Nama istilah tersebut berasal dari sebuah nama Dewa Zeus yang diyakini oleh bangsa Yunani. Kemudian dalam konteks Al-Qur'an, hermeneutika bertujuan untuk menggali makna yang lebih dalam dari ayat-ayat suci, melampaui pemahaman literal (umum). Selain itu, hermeneutika juga menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membantu penginterpretasian teks ayat suci Al-Qur’an.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Biografi Ibnu ‘Arabiy

Imam Ibnu al-Jazari dalam kitab Ghayatun Nihayah fi Thabaqati al-Qurra menyebutkan bahwa Ibnu Arabi bernama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi al-Hatimi at-Tha’i al-Andalusi. Hanya saja, ia lebih masyhur dengan sebutan Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Ibnu ‘Arabi dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M di Mursia, Spanyol bagian tenggara. Menariknya, kelahirannya memiliki keistimewaan tersendiri karena bertepatan dengan tanggal turunnya wahyu pertama Al-Quran. Lebih dari itu, tahun kelahirannya bersamaan dengan wafatnya tokoh sufi terkemuka Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, menimbulkan persepsi di kalangan tertentu bahwa ia ditakdirkan sebagai penerus spiritual tokoh yang dikenal sebagai wali Allah tersebut.[2] Kelahiran Ibn Arabi bertepatan dengan masa pergolakan di Andalusia. Dari perspektif eksternal, otoritas Islam menghadapi tekanan dari pasukan Kristen yang menyebut diri mereka Reconquista. Gerakan ini diawali dengan pendudukan Toledo oleh Alfonso VI pada 1085 M dan berlanjut dengan jatuhnya Saragosa di tahun 1118 M. Sementara itu, secara internal terjadi kontestasi kekuasaan yang melibatkan perpindahan tampuk kepemimpinan dari dinasti al-Murabitun ke al-Muwahhidun.[3]

Mengalir dalam pembuluh darahnya adalah darah keturunan Arab murni dari klan Bani Tha'i yang terhormat. Posisi sosialnya semakin diperkuat dengan status ayahnya sebagai petinggi di lingkungan istana dinasti al-Muwahhidun, yang dikenal karena integritas dan kesalehannya selama masa kepemimpinan dua penguasa: Abu Ya'qub Yusuf dan penggantinya, al-Mu'min III Abu Yusuf al-Manshur. Dari jalur maternal, garis kebangsawanannya terhubung dengan Yahya ibn Yughan al-Shanhaji, seorang pemimpin wilayah Tlemcen yang memiliki pengaruh signifikan pada masanya. Hal ini sebagaimana yang dituliskan oleh Syekh Abdullah al-Karim dalam salah satu karyanya yang berjudul Kitabul Qabas fi Syarhi Muwattha’ Malik bin Anas, ia mengatakan: “Ibnu Arabi terlahir dari keluarga yang agamis, dan lingkungan keagamaan yang mulia.”

Beliau terlahir dari keluarga yang agamis, kemudian ditambah dengan dukungan lingkungan yang juga dipenuhi dengan keilmuan, menjadikan Ibnu Arabi sejak kecil terbiasa dengan ilmu agama. Dengan kedisiplinan dan semangatnya  yang tinggi, akhirnya Ibnu Arabi tumbuh sebagai sosok yang mulai memahami banyak cabang ilmu syariat, khususnya ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran, tata bahasa Arab, hisab, dan lainnya. Sebagaimana dikatakan: “Dan tidak diragukan lagi, bahwa sesungguhnya dia (Ibnu Arabi) telah memulai belajar sejak usia balita. Di usia itu, ia sudah bisa menghapal Al-Quran, ilmu qira’at, dan mampu menguasai bahasa Arab dan Hisab (Matematika).”

Setelah mengenyam pendidikan fundamental dari sang ayah dan memperdalam berbagai cabang ilmu syariat, semangat mencari ilmu dalam diri beliau semakin membara. Perjalanan intelektualnya membawa beliau mengunjungi para cendekiawan Muslim terkemuka pada zamannya. Pilihan pertama jatuh pada tanah Maghribi, sebuah negeri yang menjadi mercusuar peradaban Islam dengan tradisi keilmuan yang mengakar kuat dan telah melahirkan sejumlah ulama berpengaruh.  Di tanah Maghribi ini, langkah beliau tertuju ke kota Fez, dimana sosok Imam Abu Abdillah at-Tamimi al-Fasi bersemayam. Sang Imam dikenal luas sebagai pakar hadits dan fiqih yang memiliki kedalaman ilmu yang menakjubkan. Dibawah asuhan beliau, semangat menuntut ilmu semakin berkobar. Setiap butir mutiara hadits yang diajarkan, tersimpan rapi dalam sanubarinya.

Penguasaannya terhadap prinsip-prinsip fiqih mencapai tingkat yang mengagumkan. Tak satupun pelajaran yang luput dari pemahaman dan hafalannya. Meski telah menimba ilmu yang begitu dalam dari Imam at-Tamimi, dahaga keilmuannya tak kunjung terpuaskan. Tekadnya membawa beliau menjelajahi berbagai pelosok negeri untuk memperdalam pemahaman agama. Damaskus menjadi tujuan utama pengembaraannya, namun tidak berhenti disitu. Kairo, Baghdad, dan Makkah turut menjadi saksi perjalanan intelektualnya. Setelah pengembaraan panjang tersebut, beliau tumbuh menjadi sosok ulama dengan kedalaman ilmu yang menakjubkan. Setiap cabang ilmu syariat dikuasainya dengan sempurna, ditambah pemahaman mendalam terhadap hadits-hadits Nabi. Keluasan ilmunya mengundang kekaguman dan penghormatan dari para ulama sezamannya.[4]

Perjalanan spiritual Ibn 'Arabi mencapai puncaknya saat ia tiba di Sevilla. Di kota ini, ia bertemu dengan seorang pembimbing spiritual yang luar biasa, Fathimah binti Ibn al-Mutsanna, seorang sufi perempuan dari Kordoba yang kemudian menjadi guru spiritualnya. Pertemuan ini, yang terjadi di masa mudanya, meninggalkan kesan yang mendalam pada Ibn 'Arabi. Dalam catatan pribadinya, ia menggambarkan gurunya sebagai pribadi yang telah mencapai tingkat kecintaan Ilahi yang tinggi.

Selama masa hidupnya di Sevilla, semangat pencarian spiritual Ibn 'Arabi membawanya menjelajahi berbagai wilayah di Andalusia dan Afrika Utara. Setiap perjalanan menjadi kesempatan berharga baginya untuk belajar dari para sufi dan cendekiawan terkenal. Salah satu pertemuan yang paling berkesan baginya adalah dengan filosof agung Ibn Rusyd di Kordoba, sebuah pertemuan yang diatur oleh ayahnya dengan keluarga terpandang tersebut.

Pada tahun 620 Hijriah (1223 M), Ibn 'Arabi memutuskan untuk menetap di Damaskus, yang menjadi saksi tahun-tahun terakhir kehidupannya. Meski sesekali mengunjungi Aleppo pada tahun 1231, Damaskus tetap menjadi tempat tinggal utamanya. Perjalanan panjang yang penuh makna, karya-karya monumental, dan kehidupan zuhud yang dipilihnya menguras energi fisiknya. Namun, nama dan pengaruhnya semakin meluas, hingga penguasa Damaskus, al-Malik al-'Adl, menawarkan tempat tinggal di istana kepadanya.

Di Damaskus, Ibn 'Arabi menyelesaikan karya-karya besar seperti al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam, yang merangkum ajaran-ajaran spiritualnya, serta kumpulan puisi Diwan al-Akbar. Pada 28 Rabi'ul Tsani 638 H (16 November 1240), di usia 76 tahun, ruh suci beliau kembali ke hadirat Ilahi. Prosesi pemakamannya dipimpin oleh Qadi utama Damaskus bersama dua murid setianya, menandai kepergian seorang tokoh yang telah memberikan kontribusi tak ternilai bagi khazanah spiritual Islam. Jasadnya dimakamkan di Shalihiyah, di kaki gunung Qasiyun, Damaskus utara, sebuah lokasi yang sejak lama dianggap suci dan diberkahi oleh para nabi. Setelah wafatnya, makam tersebut berkembang menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi oleh para pencari ilmu dan keberkahan..[5]

Salah satu bukti dalamnya penguasaan keilmuan Ibnu Arabi adalah bisa dilihat dari banyaknya karya yang berhasil ia tulis di masa hidupnya. Kedalaman intelektual dan keilmuan Ibn Arabi tercermin dari produktivitasnya yang luar biasa dalam menulis. Berdasarkan penelitian sejarawan Osman Yahya, kontribusi literatur Ibn Arabi mencakup 700 buku, 400 risalah, dan berbagai kumpulan syair. Di antara karya-karya monumentalnya adalah Fushulu al-Hikam yang membahas tentang kebijaksanaan, Turjuman al-Asywaq yang mengupas dimensi kerinduan spiritual, serta Syajarah al-Kaun yang membahas penciptaan.

Pemikiran Ibn Arabi memiliki pengaruh yang mendalam terhadap perkembangan peradaban Islam. Pemikirannya tidak hanya menjadi acuan pada masanya, tetapi terus menginspirasi generasi Muslim hingga era kontemporer. Keluasan ilmunya yang diakui oleh para ulama memberinya gelar kehormatan Syaikhul Akbar (Maha Guru). Kemudian magnum opus Ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, merupakan karya besar yang terdiri dari 560 bab dalam 1700 halaman. Karya ini adalah kompendium ilmu-ilmu keislaman yang berdasarkan pada tauhid. Selain memuat ajaran tasawuf dan riwayat para sufi terdahulu, al-Futuhat al-Makkiyah juga mengintegrasikan pemikiran kosmologis yang berakar dari tradisi Hermetik dan Neoplatonik ke dalam kerangka metafisika tasawuf.[6]

 

B.     Pemikiran Ibnu ‘Arabiy

Menurut Ibnu ‘Arabiy ada tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan intelek (al-ilm al-‘aqli) yang merupakan hasil penalaran akal, pengetahuan keadaan (al-‘ilm  al-ahwal), sebagai hasil eksperimen dan pengetahuan esoterik (al-‘ilm al-asrar), yang mirip dengan wahyu. Adapun pendekatan hermeneutika yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi dalam menganalisis nas-nas Al-Qur’an dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan beliau yang memilih jalan tasawuf dan sufisme. Adapun pendekatan yang digunakan ialah dengan menempuh metode hermeneutika sufistik atau ta’wil (tafsir Ishari), melalui bahasa simbolis. Karena menurutnya, pendekatan ta’wil, bukan sebuah penafsiran yang menggunakan logika (hawa nafsu).[7]

Secara umum, Ibnu ‘Arabiy berpendapat bahwa ta’wil merupakan suatu cara untuk menginterpretasi Al-Qur’an serta sabda-sabda Nabi dengan bertumpu pada keimanan, akurasi literal serta upaya pemahaman terhadap firman Tuhan (melalui pengalaman keagamaan dan ketakwaan), dan seorang mufassir mengakui supremasi akal serta kemampuannya dalam memahami segala sesuatu (kasyf).[8] Pendekatan interpretasi Ibn 'Arabi terhadap ayat-ayat suci Al-Qur'an tidak bisa dilepaskan dari perjalanan spiritualnya dalam dunia tasawuf. Beliau mengembangkan metode pemahaman yang khas, menggabungkan dimensi sufistik dengan ta'wil, mengungkap makna tersembunyi melalui simbol-simbol spiritual. Bagi Ibn 'Arabi, ta'wil bukanlah sekadar interpretasi yang bersandar pada nalar dan hasrat manusiawi semata.

Dalam pandangan Ibn 'Arabi, proses memahami Al-Qur'an dan hadits Nabi membutuhkan pondasi keimanan yang kokoh, ketepatan dalam memahami teks, serta kepekaan spiritual yang mendalam. Metode ini mensyaratkan pengalaman religius yang intens dan ketakwaan sebagai kunci membuka makna firman Ilahi. Seorang penafsir, menurut beliau, perlu mengakui peran akal sebagai instrumen pemahaman, namun juga harus membuka diri terhadap pencerahan spiritual (kasyf) yang dapat mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.

 

Ada berbagai pendapat dari ulama mengenai pengertian ta’wil, diantaranya:[9]

1)      Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat, menyatakan “Ta’wil secara bahasa bermakna kembali, sedangkan secara istilah bermakna mengalihkan lafazh dari maknanya yang zhahir kepada makna lain (batin) yang terkandung di dalamnya, apabila makna yang lain itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As- Sunnah”.

2)      Ibnu Al-Jawzi dalam bukunya Al-Idhah li Qawanin Al-Istilah mengatakan bahwa, “Ta’wil adalah mengalihkan lafazh ambigu (muhtamal) dari maknanya yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena adanya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh pembicara adalah makna yang lemah”

3)      Tajuddin Ibn as-Subki, dalam kitabnya Jam’u al-jawami’, beliau mengatakan: “Ta’wil adalah mengalihkan makna lafazh zhahir. Bila mengalihkan kepada makna yang dimungkinkan lemah tapi berlandaskan dalil, maka itulah ta’wil yang benar. Namun, jika berdasarkan anggapan belaka, maka itu adalah ta’wil yang bathil. Dan jika tidak berlandaskan apa- apa, maka itu adalah main-main, dan bukanlah ta’wil

 

Ibnu 'Arabiy sangat menghargai teks harfiah. Dia berpendapat bahwa teks adalah jenis linguistik yang paling penting. Beberapa sarjana Barat menyatakan bahwa Ibnu 'Arabi banyak menggunakan takwil, atau tafsir esoterik, yang membuka pintu ke alam gaib melalui makna teks harfiah. Sejauh diketahui bahwa Syekh Sufi ini memiliki perhatian yang sama dengan penafsir Muslim lainnya dalam memahami arti harfiah al-Qur'an. Meskipun Ibn 'Arabi tidak pernah menentang arti lahiriah dan harfiah, ia sering menambahkan arti harfiah dengan interpretasi yang didasarkan pada penyingkapan intuitif (kasyf), yang melampaui keterbatasan kognitif umum manusia. Ia sering memberi tahu kita bahwa Allah memiliki kemampuan untuk memberi tahu para arif (ahli makrifah) makna teks yang tidak pernah terungkap oleh orang lain dan penyingkapan-penyingkapan ini bisa dipercayai sejauh tidak menyangkal atau bertentangan dengan makna harfiah. Orang-orang yang berkenalan dengan Ibnu 'Arabi melalui karya-karya Henry Corbin, seorang sarjana Studi Keislaman asal Perancis, telah memperoleh pengetahuan bahwa takwil adalah salah satu dasar pemikiran Syekh ini. [10]

Beberapa akademisi menganggap takwil Ibnu ‘Arabi sebagai cara untuk mengalihkan makna teks Al-Quran dari pengalaman mistik. Corbin berpendapat bahwa takwil tersebut merupakan upaya untuk memahami simbol secara mendalam, mengubah segala sesuatu menjadi simbol. Setiap hal memiliki esensi, yang tidak bergantung pada logika atau persepsi indrawi. Proses interpretasi ini berhubungan dengan dunia ide (dunia kesamaan), di mana imajinasi atau pemikiran menjadi alat pengetahuan yang aktif. Takwil ini menunjukkan simbol-simbol yang berkembang, hasil dari imajinasi yang aktif. Takwil sufistik yang bergantung pada imajinasi ini pada dasarnya tidak meresap ke dalam realitas kehidupan sehari-hari, karena imajinasi ini termasuk dalam entitas dunia ide yang menjembatani antara alam spiritual yang murni dan alam empiris-historis.

Menurut Almond, takwil Ibnu 'Arabi pada dasarnya bersifat dekonstruktif. Tafsir Ibnu 'Arabi dan hermeneutika dekonstruktif mencapai kesimpulan bahwa teks memiliki banyak makna, karena keduanya berpendapat bahwa pendekatan mereka terhadap teks tidak terbatas. Keterbukaan hermeneutika dekonstruktif, yang memandang teks sebagai mesin makna, atau mesin makna, yang dapat secara terus menerus menghasilkan makna baru, pada dasarnya mirip dengan keterbukaan takwil Al-Qur’an Ibnu 'Arabi. Ketidakterbatasan Tuhan, Pengarangnya, meledakan atau meledak Alquran sekaligus, membuatnya mampu mengatakan hal-hal tak terbatas untuk tujuan yang juga tak terhingga.

Oleh karena itu, takwil yang digunakan Ibn ‘Arabi adalah pendekatan penafsiran esoteris-mistis yang menganggap teks memiliki jumlah makna dalam yang tidak terbatas. Takwil membawa pembaca ke tingkat makna yang lebih tinggi dengan melepaskan teks daripada menafsirkannya. Banyak akademisi yang mendukung tafsir isyari, termasuk takwil Ibnu Arabi, berpendapat bahwa tafsir isyari tidak menghilangkan struktur asli Al-Qur’an, tetapi memberinya makna baru yang berasal dari makna literalnya.

Ta’wil Ibnu ‘Arabi dengan ta’wil batinniyah sekte Syiah Isma’iliyyah itu tidak sama dan sangatlah berbeda. Selain itu, Kaum sufi sendiri menolak jika pendekatan penafsiran mereka dikategorikan sebagai takwil batini ataupun penafsiran bebas serta liberal yang melabrak ketentuan-ketentuan eksoterik Al- Qur’an. Menurut Al-Ghazali (W. 505 H.), dalam kitabnya yang berjudul Fada’ih al-Batiniyyah menjelaskan perbedaan ta’wil antara kaum sufi dan Batiniyyah adalah bahwa meskipun kalangan sufi berorientasi pada upaya mengungkap makna spiritual dibalik teks, namun mereka masih menerima makna eksternal teks. Adapun Batiniyyah, mereka hanya percaya pada aspek batin teks, dengan tujuan membatalkan tuntutan-tuntutan syariat.

Dalam kajiannya tentang hermeneutika Al-Qur'an perspektif Ibn 'Arabi, Chittick menggarisbawahi bahwa pendekatan tafsir sufistik yang dikembangkan tokoh ini tidak mengabaikan dimensi tekstual ayat. Pemaknaan esoteris justru berfungsi sebagai pengayaan yang bersumber dari pencerahan spiritual, yang validitasnya bergantung pada keselarasannya dengan makna lahiriah teks. Prinsip ini menegaskan supremasi otoritas Ilahi dalam memahami esensi wahyu, mengingat keterbatasan kapasitas nalar manusia. Konsekuensinya, untuk mencapai pemahaman yang mendalam, seseorang perlu menempuh jalan pengabdian total kepada Allah, melalui kontinuitas pembacaan Al-Qur'an dan ketaatan menyeluruh terhadap kaidah-kaidah syariat..[11]

Selain itu, Ibn ‘Arabi sendiri dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjelaskan urgensi prinsip tekstualitas dalam takwilnya dengan mengatakan, “Jika terdapat ayat Al-Qur’an ataupun hadis dengan suatu lafal bahasa tertentu, maka prinsip utama (dalam menafsirkan-nya) adalah pemaknaan apa adanya menurut kaidah bahasa Arab. Namun ketika Tuhan menggunakan lafal ini bukan dalam pengertian bahasa-nya, (melainkan sebagai istilah-istilah syariat) seperti kata salat, wudu, haji, dan zakat, maka yang menjadi landasan adalah apa yang dikosepsikan dan ditetapkan Tuhan sebagai Shari‘ (pembuat hukum).”

Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kaum sufi, termasuk Ibnu ‘Arabi ketika hendak mengurai makna terhadap suatu teks ialah selalu berpedoman pada kaedah deept structure (struktur dalam) dan surface structure (struktur luar). Dengan berpedoman pada kaedah tersebut akan didapatkan makna yang komprehensif dari suatu teks. Mereka sangat intens terhadap aspek batin tanpa mengabaikan aspek lahirnya.[12] Ia menta’wilkan ayat- ayat al-Qur’an yang tidak sesuai dengan lahiriyah teks, dengan menggunakan simbol-simbol dan menerapkan simbol-simbol tersebut dengan antara makna zahir yang dikehendaki. Sepanjang itu, Ibn ‘Arabi selalu menjunjung tinggi makna lahirnya teks menuju makna batin teks (bain zahiriyyah wa al-batiniyyah).

Ibn Arabi dengan tegas menentang praktik ta'wil yang semata-mata didasarkan pada logika, pemikiran pribadi, atau yang lebih buruk lagi, dipengaruhi oleh keinginan nafsu. Ia memandang bahwa penafsiran yang menyimpang dari maksud sesungguhnya firman Allah dalam Al-Quran adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Menurutnya, ta'wil tidak seharusnya meniadakan atau mengabaikan makna literal dari teks suci, apalagi sampai mengubah atau menolak ketentuan-ketentuan syariat, baik perintah maupun larangannya. Ibn Arabi menekankan bahwa dalam menjalani tasawuf, seseorang harus tetap berpegang teguh pada syariat, sebab syariat merupakan timbangan (mīzān) dan pemimpin (imām) yang wajib dipatuhi oleh siapapun yang ingin mencapai kesuksesan dalam perjalanan spiritualnya.[13]

Dalam upaya interpretasi teks Al-Qur’an, Ibnu ‘Arabiy sebagai seorang sufi menggunakan metode Tafsir sufi isyari  yakni pentakwilan ayat-ayat  al-Qur’an yang berebeda dengan makna  lahirnya sesuai dengan petunjuk khusus isyarat khafiyyah yang diterima para tokoh sufisme. Adapun yang menjadi  asumsi dasar dalam tafsir isyari  adalah bahwa al-Qur’an mencakup apa yang zahir  dan batin. Makna zahir  dari al-Qur’an adalah teks ayat  sedangkan makna batin-nya adalah makna isyarat yang ada di balik makna tersebut. Interpretasi ini termasuk ke dalam metode hermenutika sufistik. Ia menggunakan pendekatan simbolis dan mistis untuk memahami teks-teks suci, yang memungkinkan pembaca untuk menggali makna lebih dalam yang tidak selalu tampak secara literal. Dalam hermeneutika sufistik, penekanan diberikan pada pengalaman spiritual dan dimensi batin dari teks, yang mencerminkan hubungan antara makna tekstual dan pengalaman mistik individu. Metode ini bertujuan untuk menyingkap esensi spiritual dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

 

Al-Harith al-Muhasibi menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap makna Al-Qur'an memerlukan penguasaan berbagai disiplin ilmu. Seorang peneliti harus memahami prinsip-prinsip ulum al-Qur'an dan usul al-fiqh, termasuk konsep nasikh-mansukh, muhkam-mutashabih, taqdim-ta'khir, serta berbagai nuansa bahasa yang mencakup makna umum-khusus dan ungkapan-ungkapan langka. Pemaknaan yang mendalam melalui ta'wil harus didasarkan pada pemahaman tekstual dan konteks historis, dengan mempertimbangkan bagaimana ayat-ayat tersebut dipahami oleh generasi pertama penerimanya.

Ta'wil berfungsi sebagai jembatan antara dimensi lahiriah teks dan pengalaman spiritual yang mendalam. Dalam pandangan ini, teks suci tidak hanya memiliki satu makna tunggal, tetapi merupakan cermin yang memantulkan berbagai dimensi pemahaman, mencerminkan kompleksitas realitas spiritual. Namun, pengungkapan makna batiniah hanya dapat dicapai oleh mereka yang telah mensucikan hati dari noda-noda duniawi yang menghalangi pandangan spiritual.

Pemahaman mendalam terhadap Al-Qur'an dan Sunnah pada tingkat spiritual memerlukan pencapaian maqam ma'rifat, yaitu keadaan di mana seseorang menghadirkan Allah dalam kesadarannya. Menurut Ibn 'Arabi, puncak pencapaian spiritual dalam memahami eksistensi Allah adalah maqam kamal. Pada tingkatan ini, seorang salik telah berhasil merealisasikan wujud Ilahi hingga menjadi cermin yang memantulkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang dimaksud dengan al-insan al-kamil, manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritual. Pada maqam ini, jiwa dan hati telah terbebas dari belenggu nafsu dan keterbatasan fisik, membuka tabir pemahaman terhadap hakikat segala realitas.[14]

Untuk mencapai hal tersebut Ibn ‘Arabi mengajukan tiga teori, yaitu melalui jalan al-mukashafah, al-tajalli, dan al-mushahadah, adapun penjelasannya sebagai berikut:[15]

1)      al-mukashafah, sebuah proses penyingkapan yang mengakui adanya tabir antara jiwa manusia dengan rahasia ketuhanan. Dalam dimensi ini, pemahaman berkembang melalui beberapa tingkatan: akal yang mengungkap makna rasional, hati yang menangkap pancaran cahaya spiritual, ruh yang memahami hikmah penciptaan, dan khafi dimana Allah membuka tabir pengetahuan melalui manifestasi keagungan dan keindahan-Nya.

2)      Tajalli menggambarkan pancaran nur Ilahi yang menerangi semesta. Proses ini menunjukkan bagaimana cahaya ketuhanan memancar ke dalam jiwa makhluk, menghaluskan sifat-sifat duniawi, hingga terjadinya penyatuan spiritual yang mendalam. Ibn 'Arabi melihat ini sebagai proses al-Ishraq, dimana nur Ilahi menyinari dan membentuk kesadaran makhluk-Nya.

3)      al-Mushahadah merupakan puncak pengalaman spiritual dimana hati menjadi cermin yang memantulkan cahaya kebenaran. Berbeda dengan mukashafah yang berfokus pada hilangnya penghalang, dan tajalli yang menekankan hadirnya cahaya rahasia, al-Mushahadah menghadirkan pengalaman langsung dalam hati yang telah dimurnikan melalui zikir.

Dalam proses interpretasi spiritual ini, pengalaman intuitif seorang sufi memegang peranan utama. Kondisi psiko-spiritual yang dialami merupakan buah dari perjuangan melawan ego dan nafsu, membuka pintu pemahaman yang lebih dalam. Sebagaimana dipahami oleh para ahli spiritual, makna sejati tersimpan dalam hati yang bersih, terungkap secara bertahap sesuai tingkat kedekatan spiritual seseorang dengan Sang Pencipta. Hati menjadi instrumen utama dalam menangkap realitas hakiki, dimana kejernihan spiritual yang diperoleh melalui penyucian diri mampu memantulkan rahasia-rahasia tersembunyi dalam ayat-ayat suci.

Dalam pandangan Ibn 'Arabi tentang ta'wil, seperti dalam ta'wil isyari secara umum, interaksi antara struktur teks dan horizon batin seorang sufi saat membaca teks suci menghasilkan makna yang merujuk pada realitas-realitas spiritual. Namun, proses kontekstualisasi isyari ini tidak menghancurkan tatanan tekstual Al-Qur'an, karena makna spiritual tersebut adalah makna lanjutan yang tidak merusak makna aslinya. Teks dan konteks batin saling memperkaya dan tidak saling menegasikan. Nasr Hamid berpendapat bahwa ta'wil, yang didefinisikan sebagai proses rasional-subjektif yang bertujuan untuk memusatkan teks pada pemikiran mufasir semata, melupakan otoritas teks dan kekayaan penafsirannya yang mempengaruhi pemikiran mufasir. Oleh karena itu, hubungan antara pembaca dan teks bukanlah hubungan penundukan dan ketundukan pembaca, melainkan hubungan dialektis yang saling mempengaruhi.

C.    Contoh Penerapan Ta’wil Ibnu ‘Arabiy dalam Al-Qur’an

Salah satu contoh penggunaan pendekatan ishari (ta’wil) Ibnu ‘Arabiy terdapat dalam QS. Al-Ma’arij ayat 23, yang berbunyi :

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ﴿٢٣﴾

Artinya : “Yang mereka itu tetap (tanpa henti) mengerjakan shalatnya.”[16]

 

Yang menjadi focus dalam ayat ini adalah esensi sholat. Adapun dalam mengkaji esensi shalat, perlu dipahami dimensi linguistik dan syar'inya terlebih dahulu. Secara etimologis, shalat berakar dari makna doa (al-du'a'), sementara dalam terminologi syariat, shalat merupakan ritual khusus yang terikat dengan waktu dan tata cara tertentu. Ibn 'Arabi menguraikan bahwa dalam dimensi lahiriah, shalat mencakup delapan bentuk ibadah: shalat wajib lima waktu, witir di malam hari, shalat Jumat, shalat dua hari raya, shalat gerhana, shalat istisqa', shalat istikharah, dan shalat jenazah. Namun pemahaman Ibn 'Arabi tentang shalat melampaui aspek ritual semata, menembus ke dimensi batiniah yang lebih dalam.

Dalam menafsirkan QS. Al-Ma'arij ayat 23, beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang shalat sejatinya sedang bermunajat kepada Allah melalui zikir. Allah menjadi teman duduk (jalis) bagi setiap hamba yang senantiasa mengingat-Nya dalam segala kondisi. Munajat sejati terwujud ketika seorang hamba menyadari kehadiran Ilahi dalam setiap momen kehidupannya, menciptakan kondisi spiritual yang berkelanjutan. Merujuk pada teladan Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa beliau senantiasa berzikir dalam setiap kesempatan, Ibn 'Arabi menggarisbawahi pentingnya zikir qalbi, mengingat Allah yang melampaui batasan lafaz dan imajinasi. Bagi siapa yang mencapai tingkat zikir semacam ini, kehadiran Ilahi menjadi pengalaman spiritual yang berkesinambungan.[17]

Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwa makna shalat secara esoterik/hakikat adalah mengingat kepada Allah dalam setiap waktu, zikir kepada Allah dalam setiap saat, merasakan kehadiran Allah dalam setiap keadaan dan perbuatan. Barang siapa yang melihat roh shalat yaitu kehadiran bersama dengan Allah dan bermunajat dengan-Nya terus-menerus tanpa berhenti, maka semua perbuatannya adalah shalat.” Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang hadir bersama dengan Allah terus-menerus tanpa berhenti sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS. Al-Ma’arij ayat 23, yaitu mereka yang tetap (tanpa henti) mengerjakan shalatnya. Adapun makna shalat secara hakikat ini tidak menafikan makna shalat sebagai syariat. Menurut Ibnu ‘Arabi, shalat dalam syariat adalah sebagai jalan untuk mencapai shalat secara hakikat. Meskipun secara syariat shalat memenuhi rukun-rukun dan syarat syari’at, tetapi jika tidak mencapai shalat dalam makna hakikat, itu seperti ibarat badan tanpa roh.


KESIMPULAN

Ibnu Arabi, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi al-Hatimi at-Tha'i al-Andalusi, lebih dikenal sebagai Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Ia lahir pada 17 Ramadhan 560 H / 28 Juli 1165 M di Mursia, Spanyol tenggara. Ia adalah salah satu tokoh terkenal dalam dunia tasawuf. Ibnu Arabi hidup dalam masa transisi yang bergejolak di Al-Andalus. Dia berasal dari keluarga Arab asli Bani Tha'i. Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi di istana al-Muwahhidun yang terkenal saleh dan terpercaya pada masa pemerintahan Abu Ya'qub Yusuf dan al-Mu'min III, Abu Yusuf al-Manshur. Dari pihak ibu, Ibnu Arabi memiliki paman bernama Yahya ibn Yughan al-Shanhaji, seorang penguasa di Tlemcen. Sejak usia muda, Ibnu Arabi menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan spiritualitas, terutama dalam bidang sufisme. Dia memilih tasawuf sebagai jalan hidupnya.

Ibnu Arabi menggunakan pendekatan hermeneutika sufistik melalui ta'wil dalam memahami Al-Qur'an. Ta'wil secara bahasa berarti kembali, sedangkan secara istilah berarti mengalihkan makna lafazh yang tampak ke makna lain yang tersembunyi di dalamnya, selama makna tersebut sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ibnu Arabi menggunakan ta'wil untuk mengungkap makna esoterik dalam teks Al-Qur'an tanpa mengabaikan makna eksoteriknya, dan selalu berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika menafsirkan, pengalaman intuitif dan spiritual seorang sufi memegang peranan penting dalam proses pemaknaan dan memudahkan upaya pengungkapan realitas. Menurutnya, teks dan konteks batin saling memperkaya, bukan menegasikan. Contoh penggunaan ta'wil oleh Ibnu Arabi dalam Al-Qur'an bisa ditemukan dalam QS. Al-Ma'arij ayat 23 tentang shalat, di mana ia berusaha mengungkap makna esoterik dari ayat tersebut dengan pendekatan ta'wil tanpa mengabaikan aspek eksoteriknya.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Chittick, William C. The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan). 1st ed. Yogyakarta: Qalam, 2001.

Faizin, Muhammad. “Hermeneutika Sufistik-Filosofis: Penafsiran Ibn ’Arabi Atas Kisah Nabi Musa Dan Nabi Khidir Dalam QS.Al-Kahfi 60-82.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10, no. 1 (2021): 14–34. https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i1.4637.

Haq, Sansan Ziaul. “Hermeneutika Sufistik: Telaah Epistemologi Takwil Ibn ‘Arabi.” Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alquran Dan Tafsir 4, no. 1 (2019): 1–25. https://doi.org/10.32505/tibyan.v4i1.890.

Muhammad Ibnu Sahroji. “Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi Dan Filosof Besar Dari Spanyol.” Bincang Syariah, 2020. https://bincangsyariah.com/khazanah/biografi-ibnu-arabi/.

Naser, Seyyed Hossen. Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam. IRCHISOD, 1963.

Nur, Kautsar Azhari. “Hermeneutik Sufi : Sebuah Kajian Atas Pandangan Ibn Arabi Tentang Takwil Al-Qur’an.” Kanz Philosophia : A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism 2, no. 2 (2012): 309. https://doi.org/10.20871/kpjipm.v2i2.35.

Qomari, Nur. “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi.” UIN Sunan Ampel Surabaya., 2016.

Razzaq, Abdur. “Studi Analisis Komparatif Antara Ta ’ Wil Dan Hermeneutika Dalam Penafsiran Al- Qur ’ an Abdur Razzaq Deden Mula Saputra.” Wardah 17, no. 2 (2016): 97–98.

Sugianto. “Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu Arabi.” Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 1, no. 2 (2019): 179–94.

Sunnatullah. “Meneladani Semangat Ibnu Arabi: Belajar Dari Kecil Hingga Jadi Ulama Terkemuka.” Nu Online, 2023. https://islam.nu.or.id/syariah/meneladani-semangat-ibnu-arabi-belajar-dari-kecil-hingga-jadi-ulama-terkemuka-Qhnac.

Tafsir Web. “Surah Al-Maarij Ayat 23,” n.d. https://tafsirweb.com/11319-surat-al-maarij-ayat-23.html.

 



[1] Sansan Ziaul Haq, “Hermeneutika Sufistik: Telaah Epistemologi Takwil Ibn ‘Arabi,” Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alquran Dan Tafsir 4, no. 1 (2019): 5.

 

[3] Muhammad Ibnu Sahroji, “Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi Dan Filosof Besar Dari Spanyol,” Bincang Syariah, 2020, https://bincangsyariah.com/khazanah/biografi-ibnu-arabi/. diakses pada 28 September 2024

[4] Sunnatullah, “Meneladani Semangat Ibnu Arabi: Belajar Dari Kecil Hingga Jadi Ulama Terkemuka,” Nu Online, 2023, https://islam.nu.or.id/syariah/meneladani-semangat-ibnu-arabi-belajar-dari-kecil-hingga-jadi-ulama-terkemuka-Qhnac. diakses pada 29 September 2024

[5] Seyyed Hossen Naser, Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam (IRCHISOD, 1963). H. 180

[6] Naser. h.181

[7] Nur Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi” (UIN Sunan Ampel Surabaya., 2016). Hal. 2

[8] William C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan), 1st ed. (Yogyakarta: Qalam, 2001). Hal. 170

[9] Abdur Razzaq, “Studi Analisis Komparatif Antara Ta ’ Wil Dan Hermeneutika Dalam Penafsiran Al- Qur ’ an Abdur Razzaq Deden Mula Saputra,” Wardah 17, no. 2 (2016): 97–98.

[10] Haq, “Hermeneutika Sufistik: Telaah Epistemologi Takwil Ibn ‘Arabi.” 310-311

[11] Chittick, The Sufi Path of Knowledge: Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan).

[12] Sugianto, “Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu Arabi,” Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 1, no. 2 (2019): 185.

[13] Kautsar Azhari Nur, “Hermeneutik Sufi : Sebuah Kajian Atas Pandangan Ibn Arabi Tentang Takwil Al-Qur’an,” Kanz Philosophia : A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism 2, no. 2 (2012): 309, https://doi.org/10.20871/kpjipm.v2i2.35.

[14] Muhammad Faizin, “Hermeneutika Sufistik-Filosofis: Penafsiran Ibn ’Arabi Atas Kisah Nabi Musa Dan Nabi Khidir Dalam QS.Al-Kahfi 60-82.,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10, no. 1 (2021): 14–34, https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i1.4637.

[15] Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi.”

[16] “Surah Al-Maarij Ayat 23,” Tafsir Web, n.d., https://tafsirweb.com/11319-surat-al-maarij-ayat-23.html. diakses pada 9 Desember 2024

 

[17] Muhy al-Din Ibn ‘Arabi, al-Futuhat, ed. Ah}mad Shamsuddin, Vol,V, 330. Lihat di Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi.” Hal. 89-90

 

Komentar