Pemikiran Hermeneutika Ibnu 'Arabiy
MAKALAH HERMENEUTIKA
AL-QUR’AN
TELAAH PEMIKIRAN IBNU
‘ARABIY
Dosen Pengampu:
Dr.
Luqman Abdul Jabbar, S.Ag., M.S.I
Disusun oleh:
KELOMPOK 10
|
(12209005) |
|
|
Nor Hasanah |
(12209032) |
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
FAKUKTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK
TAHUN 2024 M/1446 H
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam mengkaji dan memahami Al-Qur'an, terdapat
sebuah metode yang disebut hermeneutika. Metode ini diadopsi dari istilah
Yunani kuno hermeneuein, yang mengacu pada aktivitas penafsiran. Nama
ini terinspirasi dari mitologi dewa Zeus yang berkembang di peradaban Yunani.
Ketika diterapkan pada Al-Qur'an, pendekatan ini berupaya mengungkap pengertian
yang lebih mendalam, menembus batas pemaknaan harfiah. Pendekatan ini menjadi
salah satu cara yang bermanfaat dalam menginterpretasikan kitab suci. Pembahasan
ini menyoroti sosok Ibnu 'Arabiy. Perlu diketahui bahwa terdapat dua ulama
besar bernama Ibnu 'Arabiy yang berasal dari tanah Andalusia. Pertama, Abu Bakr
Muhammad Ibn 'Abd Allah Ibn al-Arabi al-Ma'arifi yang hidup antara tahun
468-543 Hijriah. Beliau merupakan ahli hadis dari Sevilla yang menulis kitab
Ahkam al-Qur'an. Setelah mengundurkan diri dari jabatan qadli, beliau
mencurahkan waktunya untuk menulis dan mengajar. Kedua, Abu Bakr Muhammad Muhy
al-Din ibn 'Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn 'Abd Allah al-Hatim al-Ta'i
al-Andalusi. Sosok kedua inilah yang menjadi pusat perhatian kajian ini. Beliau
dianugerahi gelar Muhy al-Din dan Syaikh al-Akbar.
Sebagai sufi terkemuka dari Andalusia, Ibnu
'Arabiy dikenal dengan pemikirannya yang mendalam tentang pemaknaan Al-Qur'an.
Pendekatan sufistiknya dalam memahami teks menawarkan perspektif yang khas dan
penuh makna. Seiring waktu, para sufi mulai menuangkan pemahaman mereka tentang
Al-Qur'an dalam bentuk karya tafsir dengan corak sufistik. Pemikiran Ibnu
'Arabi dalam memahami Al-Qur'an berpusat pada tiga konsep, yaitu takwil,
wahdatul wujud, dan kasyf.
Catatan dalam Da'irat al-Ma'arif al-Islamiyyah
menunjukkan adanya perbedaan pandangan terhadap pemikiran Ibnu 'Arabiy.
Beberapa ulama yang mengkritik ajarannya termasuk Ibn Taymiyyah dan al-Imam
Jamal al-Din. Sementara itu, banyak ulama yang mendukung pemikirannya, seperti
Majd al-Din al-Fayruzabadi dan Syihab al-Din al-Suhrawardi. Menariknya,
beberapa ulama yang awalnya menentang, seperti al-Hafiz al-Dhahabi, akhirnya
mengakui kebenaran ajarannya setelah memahami lebih dalam. Al-Dhahabi bahkan
menyatakan keyakinannya akan kejujuran Ibnu 'Arabiy, sedangkan 'Izz al-Din bin
'Abd al-Salam mengakuinya sebagai wali qut pada masanya.[1] Hermeneutika Al-Qur’an adalah suatu
pendekatan atau metode yang digunakan untuk memahami
dan menafsirkan teks Al-Qur'an. Istilah
hermeneutika sendiri berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein yang berarti menafsirkan atau menerjemahkan. Nama
istilah tersebut berasal dari sebuah nama Dewa Zeus yang diyakini oleh bangsa
Yunani. Kemudian dalam konteks Al-Qur'an, hermeneutika bertujuan untuk menggali
makna yang lebih dalam dari ayat-ayat suci, melampaui pemahaman literal (umum).
Selain itu, hermeneutika juga menjadi salah satu pendekatan yang dapat
digunakan untuk membantu penginterpretasian teks ayat suci Al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi
Ibnu ‘Arabiy
Mengalir dalam pembuluh darahnya
adalah darah keturunan Arab murni dari klan Bani Tha'i yang terhormat. Posisi
sosialnya semakin diperkuat dengan status ayahnya sebagai petinggi di
lingkungan istana dinasti al-Muwahhidun, yang dikenal karena integritas dan
kesalehannya selama masa kepemimpinan dua penguasa: Abu Ya'qub Yusuf dan
penggantinya, al-Mu'min III Abu Yusuf al-Manshur. Dari jalur maternal, garis
kebangsawanannya terhubung dengan Yahya ibn Yughan al-Shanhaji, seorang
pemimpin wilayah Tlemcen yang memiliki pengaruh signifikan pada masanya. Hal ini sebagaimana yang dituliskan oleh Syekh Abdullah al-Karim
dalam salah satu karyanya yang berjudul Kitabul Qabas fi Syarhi Muwattha’ Malik bin
Anas, ia mengatakan: “Ibnu Arabi terlahir
dari keluarga yang agamis, dan lingkungan
keagamaan yang mulia.”
Beliau terlahir dari keluarga yang agamis, kemudian
ditambah dengan dukungan lingkungan yang juga dipenuhi
dengan keilmuan, menjadikan Ibnu Arabi sejak kecil terbiasa dengan
ilmu agama. Dengan
kedisiplinan dan semangatnya yang tinggi,
akhirnya Ibnu Arabi tumbuh sebagai sosok yang mulai memahami banyak cabang ilmu syariat,
khususnya ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran, tata bahasa Arab, hisab, dan lainnya.
Sebagaimana dikatakan:
Setelah
mengenyam pendidikan fundamental dari sang ayah dan memperdalam berbagai cabang
ilmu syariat, semangat mencari ilmu dalam diri beliau semakin membara.
Perjalanan intelektualnya membawa beliau mengunjungi para cendekiawan Muslim
terkemuka pada zamannya. Pilihan pertama jatuh pada tanah Maghribi, sebuah
negeri yang menjadi mercusuar peradaban Islam dengan tradisi keilmuan yang
mengakar kuat dan telah melahirkan sejumlah ulama berpengaruh. Di tanah Maghribi ini, langkah beliau tertuju
ke kota Fez, dimana sosok Imam Abu Abdillah at-Tamimi al-Fasi bersemayam. Sang
Imam dikenal luas sebagai pakar hadits dan fiqih yang memiliki kedalaman ilmu
yang menakjubkan. Dibawah asuhan beliau, semangat menuntut ilmu semakin
berkobar. Setiap butir mutiara hadits yang diajarkan, tersimpan rapi dalam
sanubarinya.
Penguasaannya
terhadap prinsip-prinsip fiqih mencapai tingkat yang mengagumkan. Tak satupun
pelajaran yang luput dari pemahaman dan hafalannya. Meski telah menimba ilmu
yang begitu dalam dari Imam at-Tamimi, dahaga keilmuannya tak kunjung
terpuaskan. Tekadnya membawa beliau menjelajahi berbagai pelosok negeri untuk
memperdalam pemahaman agama. Damaskus menjadi tujuan utama pengembaraannya,
namun tidak berhenti disitu. Kairo, Baghdad, dan Makkah turut menjadi saksi
perjalanan intelektualnya. Setelah pengembaraan panjang tersebut, beliau tumbuh
menjadi sosok ulama dengan kedalaman ilmu yang menakjubkan. Setiap cabang ilmu
syariat dikuasainya dengan sempurna, ditambah pemahaman mendalam terhadap
hadits-hadits Nabi. Keluasan ilmunya mengundang kekaguman dan penghormatan dari
para ulama sezamannya.[4]
Perjalanan spiritual Ibn 'Arabi
mencapai puncaknya saat ia tiba di Sevilla. Di kota ini, ia bertemu dengan
seorang pembimbing spiritual yang luar biasa, Fathimah binti Ibn al-Mutsanna,
seorang sufi perempuan dari Kordoba yang kemudian menjadi guru spiritualnya.
Pertemuan ini, yang terjadi di masa mudanya, meninggalkan kesan yang mendalam
pada Ibn 'Arabi. Dalam catatan pribadinya, ia menggambarkan gurunya sebagai
pribadi yang telah mencapai tingkat kecintaan Ilahi yang tinggi.
Selama masa hidupnya di Sevilla,
semangat pencarian spiritual Ibn 'Arabi membawanya menjelajahi berbagai wilayah
di Andalusia dan Afrika Utara. Setiap perjalanan menjadi kesempatan berharga
baginya untuk belajar dari para sufi dan cendekiawan terkenal. Salah satu
pertemuan yang paling berkesan baginya adalah dengan filosof agung Ibn Rusyd di
Kordoba, sebuah pertemuan yang diatur oleh ayahnya dengan keluarga terpandang
tersebut.
Pada tahun 620 Hijriah (1223 M),
Ibn 'Arabi memutuskan untuk menetap di Damaskus, yang menjadi saksi tahun-tahun
terakhir kehidupannya. Meski sesekali mengunjungi Aleppo pada tahun 1231,
Damaskus tetap menjadi tempat tinggal utamanya. Perjalanan panjang yang penuh
makna, karya-karya monumental, dan kehidupan zuhud yang dipilihnya menguras
energi fisiknya. Namun, nama dan pengaruhnya semakin meluas, hingga penguasa
Damaskus, al-Malik al-'Adl, menawarkan tempat tinggal di istana kepadanya.
Di Damaskus, Ibn 'Arabi
menyelesaikan karya-karya besar seperti al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus
al-Hikam, yang merangkum ajaran-ajaran spiritualnya, serta kumpulan puisi Diwan
al-Akbar. Pada 28 Rabi'ul Tsani 638 H (16 November 1240), di usia 76 tahun, ruh
suci beliau kembali ke hadirat Ilahi. Prosesi pemakamannya dipimpin oleh Qadi
utama Damaskus bersama dua murid setianya, menandai kepergian seorang tokoh
yang telah memberikan kontribusi tak ternilai bagi khazanah spiritual Islam. Jasadnya
dimakamkan di Shalihiyah, di kaki gunung Qasiyun, Damaskus utara, sebuah lokasi
yang sejak lama dianggap suci dan diberkahi oleh para nabi. Setelah wafatnya,
makam tersebut berkembang menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi oleh para
pencari ilmu dan keberkahan..[5]
Salah satu bukti dalamnya penguasaan keilmuan Ibnu Arabi
adalah bisa dilihat dari banyaknya karya yang berhasil ia tulis di masa
hidupnya. Kedalaman intelektual dan keilmuan Ibn Arabi
tercermin dari produktivitasnya yang luar biasa dalam menulis. Berdasarkan
penelitian sejarawan Osman Yahya, kontribusi literatur Ibn Arabi mencakup 700
buku, 400 risalah, dan berbagai kumpulan syair. Di antara karya-karya
monumentalnya adalah Fushulu al-Hikam yang membahas tentang kebijaksanaan,
Turjuman al-Asywaq yang mengupas dimensi kerinduan spiritual, serta Syajarah
al-Kaun yang membahas penciptaan.
Pemikiran Ibn Arabi memiliki
pengaruh yang mendalam terhadap perkembangan peradaban Islam. Pemikirannya
tidak hanya menjadi acuan pada masanya, tetapi terus menginspirasi generasi
Muslim hingga era kontemporer. Keluasan ilmunya yang diakui oleh para ulama
memberinya gelar kehormatan Syaikhul Akbar (Maha Guru). Kemudian magnum opus
Ibn Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, merupakan karya besar yang terdiri dari 560
bab dalam 1700 halaman. Karya ini adalah kompendium ilmu-ilmu keislaman yang
berdasarkan pada tauhid. Selain memuat ajaran tasawuf dan riwayat para sufi
terdahulu, al-Futuhat al-Makkiyah juga mengintegrasikan pemikiran kosmologis
yang berakar dari tradisi Hermetik dan Neoplatonik ke dalam kerangka metafisika
tasawuf.[6]
B. Pemikiran
Ibnu ‘Arabiy
Menurut Ibnu ‘Arabiy ada tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan
intelek (al-ilm al-‘aqli) yang merupakan hasil penalaran akal, pengetahuan
keadaan (al-‘ilm al-ahwal),
sebagai hasil eksperimen dan pengetahuan esoterik (al-‘ilm al-asrar),
yang mirip dengan wahyu. Adapun pendekatan hermeneutika yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi dalam menganalisis nas-nas Al-Qur’an dipengaruhi oleh latar
belakang pendidikan beliau yang memilih jalan tasawuf
dan sufisme. Adapun pendekatan yang digunakan
ialah dengan menempuh metode hermeneutika sufistik
atau ta’wil (tafsir Ishari),
melalui bahasa simbolis. Karena menurutnya, pendekatan ta’wil, bukan sebuah penafsiran yang menggunakan logika (hawa nafsu).[7]
Secara umum, Ibnu ‘Arabiy berpendapat bahwa ta’wil merupakan suatu cara untuk menginterpretasi Al-Qur’an
serta sabda-sabda Nabi dengan
bertumpu pada keimanan, akurasi literal serta upaya pemahaman terhadap firman
Tuhan (melalui pengalaman keagamaan dan ketakwaan), dan seorang mufassir
mengakui supremasi akal serta kemampuannya dalam memahami segala sesuatu (kasyf).[8] Pendekatan
interpretasi Ibn 'Arabi terhadap ayat-ayat suci Al-Qur'an tidak bisa dilepaskan
dari perjalanan spiritualnya dalam dunia tasawuf. Beliau mengembangkan metode
pemahaman yang khas, menggabungkan dimensi sufistik dengan ta'wil, mengungkap
makna tersembunyi melalui simbol-simbol spiritual. Bagi Ibn 'Arabi, ta'wil
bukanlah sekadar interpretasi yang bersandar pada nalar dan hasrat manusiawi
semata.
Dalam pandangan Ibn 'Arabi, proses memahami
Al-Qur'an dan hadits Nabi membutuhkan pondasi keimanan yang kokoh, ketepatan
dalam memahami teks, serta kepekaan spiritual yang mendalam. Metode ini
mensyaratkan pengalaman religius yang intens dan ketakwaan sebagai kunci
membuka makna firman Ilahi. Seorang penafsir, menurut beliau, perlu mengakui
peran akal sebagai instrumen pemahaman, namun juga harus membuka diri terhadap
pencerahan spiritual (kasyf) yang dapat mengantarkan pada pemahaman yang lebih
dalam.
Ada berbagai pendapat dari ulama
mengenai pengertian ta’wil, diantaranya:[9]
1) Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat, menyatakan “Ta’wil secara bahasa bermakna
kembali, sedangkan secara istilah bermakna mengalihkan lafazh dari maknanya
yang zhahir kepada makna lain (batin)
yang terkandung di dalamnya, apabila makna yang lain itu sesuai dengan
Al-Qur’an dan As- Sunnah”.
2)
Ibnu Al-Jawzi dalam bukunya Al-Idhah li Qawanin Al-Istilah mengatakan
bahwa, “Ta’wil adalah mengalihkan
lafazh ambigu (muhtamal) dari
maknanya yang kuat (rajih) kepada
makna yang lemah (marjuh) karena
adanya dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh pembicara adalah makna
yang lemah”
3)
Tajuddin Ibn as-Subki, dalam kitabnya Jam’u al-jawami’, beliau mengatakan: “Ta’wil adalah mengalihkan makna lafazh zhahir. Bila mengalihkan
kepada makna yang dimungkinkan lemah tapi berlandaskan dalil, maka itulah ta’wil yang benar. Namun, jika
berdasarkan anggapan belaka, maka itu adalah ta’wil yang
bathil. Dan jika tidak berlandaskan apa- apa, maka itu adalah main-main, dan bukanlah ta’wil
Ibnu 'Arabiy sangat
menghargai teks harfiah. Dia berpendapat bahwa teks adalah jenis linguistik
yang paling penting. Beberapa sarjana Barat menyatakan bahwa Ibnu 'Arabi banyak
menggunakan takwil, atau tafsir esoterik, yang membuka pintu ke alam gaib melalui
makna teks harfiah. Sejauh diketahui bahwa Syekh Sufi ini memiliki perhatian
yang sama dengan penafsir Muslim lainnya dalam memahami arti harfiah al-Qur'an.
Meskipun Ibn 'Arabi tidak pernah menentang arti lahiriah dan harfiah, ia sering
menambahkan arti harfiah dengan interpretasi yang didasarkan pada penyingkapan
intuitif (kasyf), yang melampaui keterbatasan kognitif umum manusia. Ia
sering memberi tahu kita bahwa Allah memiliki kemampuan untuk memberi tahu para
arif (ahli makrifah) makna teks yang tidak pernah terungkap oleh orang lain dan penyingkapan-penyingkapan ini bisa dipercayai sejauh
tidak menyangkal atau bertentangan dengan makna harfiah. Orang-orang yang
berkenalan dengan Ibnu 'Arabi melalui karya-karya Henry Corbin, seorang sarjana
Studi Keislaman asal Perancis, telah memperoleh pengetahuan bahwa takwil adalah
salah satu dasar pemikiran Syekh ini. [10]
Beberapa
akademisi menganggap takwil Ibnu ‘Arabi sebagai cara untuk mengalihkan makna
teks Al-Quran dari pengalaman mistik. Corbin berpendapat bahwa takwil tersebut
merupakan upaya untuk memahami simbol secara mendalam, mengubah segala sesuatu
menjadi simbol. Setiap hal memiliki esensi, yang tidak bergantung pada logika atau
persepsi indrawi. Proses interpretasi ini berhubungan dengan dunia ide (dunia
kesamaan), di mana imajinasi atau pemikiran menjadi alat pengetahuan yang
aktif. Takwil ini menunjukkan simbol-simbol yang berkembang, hasil dari
imajinasi yang aktif. Takwil sufistik yang bergantung pada imajinasi ini pada
dasarnya tidak meresap ke dalam realitas kehidupan sehari-hari, karena
imajinasi ini termasuk dalam entitas dunia ide yang menjembatani antara alam spiritual
yang murni dan alam empiris-historis.
Menurut
Almond, takwil Ibnu 'Arabi pada dasarnya bersifat dekonstruktif. Tafsir Ibnu
'Arabi dan hermeneutika dekonstruktif mencapai kesimpulan bahwa teks memiliki
banyak makna, karena keduanya berpendapat bahwa pendekatan mereka terhadap teks
tidak terbatas. Keterbukaan hermeneutika dekonstruktif, yang memandang teks
sebagai mesin makna, atau mesin makna, yang dapat secara terus menerus
menghasilkan makna baru, pada dasarnya mirip dengan keterbukaan takwil
Al-Qur’an Ibnu 'Arabi. Ketidakterbatasan Tuhan, Pengarangnya, meledakan atau
meledak Alquran sekaligus, membuatnya mampu mengatakan hal-hal tak terbatas
untuk tujuan yang juga tak terhingga.
Oleh
karena itu, takwil yang digunakan Ibn ‘Arabi adalah pendekatan penafsiran
esoteris-mistis yang menganggap teks memiliki jumlah makna dalam yang tidak
terbatas. Takwil membawa pembaca ke tingkat makna yang lebih tinggi dengan
melepaskan teks daripada menafsirkannya. Banyak akademisi yang mendukung tafsir
isyari, termasuk takwil Ibnu Arabi, berpendapat bahwa tafsir isyari tidak
menghilangkan struktur asli Al-Qur’an, tetapi memberinya makna baru yang
berasal dari makna literalnya.
Ta’wil Ibnu ‘Arabi dengan ta’wil batinniyah sekte Syiah
Isma’iliyyah itu tidak sama dan sangatlah berbeda. Selain itu, Kaum sufi
sendiri menolak jika pendekatan penafsiran mereka dikategorikan sebagai takwil
batini ataupun penafsiran bebas serta liberal yang melabrak ketentuan-ketentuan
eksoterik Al- Qur’an. Menurut Al-Ghazali (W. 505 H.), dalam kitabnya
yang berjudul Fada’ih
al-Batiniyyah menjelaskan perbedaan ta’wil
antara kaum sufi dan Batiniyyah adalah bahwa meskipun
kalangan sufi berorientasi pada upaya mengungkap
makna spiritual dibalik teks, namun mereka masih menerima makna
eksternal teks. Adapun Batiniyyah, mereka hanya percaya pada aspek batin teks,
dengan tujuan membatalkan tuntutan-tuntutan syariat.
Dalam kajiannya
tentang hermeneutika Al-Qur'an perspektif Ibn 'Arabi, Chittick menggarisbawahi
bahwa pendekatan tafsir sufistik yang dikembangkan tokoh ini tidak mengabaikan
dimensi tekstual ayat. Pemaknaan esoteris justru berfungsi sebagai pengayaan
yang bersumber dari pencerahan spiritual, yang validitasnya bergantung pada
keselarasannya dengan makna lahiriah teks. Prinsip ini menegaskan supremasi
otoritas Ilahi dalam memahami esensi wahyu, mengingat keterbatasan kapasitas
nalar manusia. Konsekuensinya, untuk mencapai pemahaman yang mendalam,
seseorang perlu menempuh jalan pengabdian total kepada Allah, melalui
kontinuitas pembacaan Al-Qur'an dan ketaatan menyeluruh terhadap kaidah-kaidah
syariat..[11]
Selain itu, Ibn ‘Arabi sendiri dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjelaskan
urgensi prinsip tekstualitas dalam takwilnya dengan mengatakan, “Jika terdapat ayat Al-Qur’an ataupun hadis
dengan suatu lafal bahasa tertentu, maka prinsip utama (dalam menafsirkan-nya)
adalah pemaknaan apa adanya menurut kaidah bahasa Arab. Namun ketika Tuhan
menggunakan lafal ini bukan dalam pengertian bahasa-nya, (melainkan sebagai
istilah-istilah syariat) seperti kata salat, wudu, haji, dan zakat, maka yang
menjadi landasan adalah apa yang dikosepsikan dan ditetapkan Tuhan sebagai
Shari‘ (pembuat hukum).”
Dari pemaparan diatas,
dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kaum sufi,
termasuk Ibnu ‘Arabi ketika hendak mengurai makna terhadap suatu teks ialah
selalu berpedoman pada kaedah deept
structure (struktur dalam) dan surface
structure (struktur luar). Dengan berpedoman pada kaedah tersebut akan
didapatkan makna yang komprehensif dari suatu teks. Mereka sangat intens
terhadap aspek batin tanpa mengabaikan aspek lahirnya.[12]
Ia menta’wilkan ayat- ayat al-Qur’an yang tidak sesuai dengan lahiriyah teks,
dengan menggunakan simbol-simbol dan menerapkan simbol-simbol tersebut dengan
antara makna zahir yang dikehendaki. Sepanjang itu, Ibn
‘Arabi selalu menjunjung tinggi makna lahirnya teks menuju makna batin teks (bain zahiriyyah wa al-batiniyyah).
Ibn Arabi dengan tegas menentang praktik ta'wil yang
semata-mata didasarkan pada logika, pemikiran pribadi, atau yang lebih buruk
lagi, dipengaruhi oleh keinginan nafsu. Ia memandang bahwa penafsiran yang menyimpang dari maksud sesungguhnya
firman Allah dalam Al-Quran adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.
Menurutnya, ta'wil tidak seharusnya meniadakan atau mengabaikan makna literal
dari teks suci, apalagi sampai mengubah atau menolak ketentuan-ketentuan
syariat, baik perintah maupun larangannya. Ibn Arabi menekankan bahwa dalam
menjalani tasawuf, seseorang harus tetap berpegang teguh pada syariat, sebab
syariat merupakan timbangan (mīzān) dan pemimpin (imām) yang wajib dipatuhi
oleh siapapun yang ingin mencapai kesuksesan dalam perjalanan spiritualnya.[13]
Dalam upaya interpretasi teks Al-Qur’an, Ibnu ‘Arabiy sebagai
seorang sufi menggunakan metode Tafsir sufi isyari yakni pentakwilan ayat-ayat al-Qur’an yang berebeda dengan makna lahirnya sesuai dengan petunjuk khusus
isyarat khafiyyah yang diterima para tokoh sufisme. Adapun yang menjadi asumsi dasar dalam tafsir isyari adalah bahwa al-Qur’an mencakup apa yang
zahir dan batin. Makna zahir dari al-Qur’an adalah teks ayat sedangkan makna batin-nya adalah makna
isyarat yang ada di balik makna tersebut. Interpretasi ini termasuk ke dalam
metode hermenutika sufistik. Ia menggunakan pendekatan simbolis dan mistis
untuk memahami teks-teks suci, yang memungkinkan pembaca untuk menggali makna
lebih dalam yang tidak selalu tampak secara literal. Dalam hermeneutika
sufistik, penekanan diberikan pada pengalaman spiritual dan dimensi batin dari
teks, yang mencerminkan hubungan antara makna tekstual dan pengalaman mistik
individu. Metode ini bertujuan untuk menyingkap esensi spiritual dan
menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Al-Harith al-Muhasibi menekankan
bahwa pemahaman mendalam terhadap makna Al-Qur'an memerlukan penguasaan
berbagai disiplin ilmu. Seorang peneliti harus memahami prinsip-prinsip ulum
al-Qur'an dan usul al-fiqh, termasuk konsep nasikh-mansukh, muhkam-mutashabih,
taqdim-ta'khir, serta berbagai nuansa bahasa yang mencakup makna
umum-khusus dan ungkapan-ungkapan langka. Pemaknaan yang mendalam melalui ta'wil
harus didasarkan pada pemahaman tekstual dan konteks historis, dengan
mempertimbangkan bagaimana ayat-ayat tersebut dipahami oleh generasi pertama
penerimanya.
Ta'wil berfungsi sebagai jembatan antara dimensi
lahiriah teks dan pengalaman spiritual yang mendalam. Dalam pandangan ini, teks
suci tidak hanya memiliki satu makna tunggal, tetapi merupakan cermin yang
memantulkan berbagai dimensi pemahaman, mencerminkan kompleksitas realitas
spiritual. Namun, pengungkapan makna batiniah hanya dapat dicapai oleh mereka
yang telah mensucikan hati dari noda-noda duniawi yang menghalangi pandangan
spiritual.
Pemahaman mendalam terhadap
Al-Qur'an dan Sunnah pada tingkat spiritual memerlukan pencapaian maqam
ma'rifat, yaitu keadaan di mana seseorang menghadirkan Allah dalam
kesadarannya. Menurut Ibn 'Arabi, puncak pencapaian spiritual dalam memahami
eksistensi Allah adalah maqam kamal. Pada tingkatan ini, seorang salik telah
berhasil merealisasikan wujud Ilahi hingga menjadi cermin yang memantulkan
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang dimaksud dengan al-insan al-kamil,
manusia yang telah mencapai kesempurnaan spiritual. Pada maqam ini, jiwa dan
hati telah terbebas dari belenggu nafsu dan keterbatasan fisik, membuka tabir
pemahaman terhadap hakikat segala realitas.[14]
Untuk mencapai hal tersebut Ibn ‘Arabi mengajukan tiga teori, yaitu
melalui jalan al-mukashafah, al-tajalli, dan al-mushahadah, adapun penjelasannya sebagai berikut:[15]
1)
al-mukashafah, sebuah
proses penyingkapan yang mengakui adanya tabir antara jiwa manusia dengan
rahasia ketuhanan. Dalam dimensi ini, pemahaman berkembang melalui beberapa
tingkatan: akal yang mengungkap makna rasional, hati yang menangkap pancaran
cahaya spiritual, ruh yang memahami hikmah penciptaan, dan khafi dimana Allah
membuka tabir pengetahuan melalui manifestasi keagungan dan keindahan-Nya.
2)
Tajalli menggambarkan
pancaran nur Ilahi yang menerangi semesta. Proses ini menunjukkan bagaimana
cahaya ketuhanan memancar ke dalam jiwa makhluk, menghaluskan sifat-sifat
duniawi, hingga terjadinya penyatuan spiritual yang mendalam. Ibn 'Arabi
melihat ini sebagai proses al-Ishraq, dimana nur Ilahi menyinari dan membentuk
kesadaran makhluk-Nya.
3)
al-Mushahadah merupakan
puncak pengalaman spiritual dimana hati menjadi cermin yang memantulkan cahaya
kebenaran. Berbeda dengan mukashafah yang berfokus pada hilangnya penghalang,
dan tajalli yang menekankan hadirnya cahaya rahasia, al-Mushahadah menghadirkan
pengalaman langsung dalam hati yang telah dimurnikan melalui zikir.
Dalam proses interpretasi
spiritual ini, pengalaman intuitif seorang sufi memegang peranan utama. Kondisi
psiko-spiritual yang dialami merupakan buah dari perjuangan melawan ego dan
nafsu, membuka pintu pemahaman yang lebih dalam. Sebagaimana dipahami oleh para
ahli spiritual, makna sejati tersimpan dalam hati yang bersih, terungkap secara
bertahap sesuai tingkat kedekatan spiritual seseorang dengan Sang Pencipta.
Hati menjadi instrumen utama dalam menangkap realitas hakiki, dimana kejernihan
spiritual yang diperoleh melalui penyucian diri mampu memantulkan
rahasia-rahasia tersembunyi dalam ayat-ayat suci.
Dalam pandangan Ibn 'Arabi
tentang ta'wil, seperti dalam ta'wil isyari secara umum, interaksi antara
struktur teks dan horizon batin seorang sufi saat membaca teks suci
menghasilkan makna yang merujuk pada realitas-realitas spiritual. Namun, proses
kontekstualisasi isyari ini tidak menghancurkan tatanan tekstual Al-Qur'an,
karena makna spiritual tersebut adalah makna lanjutan yang tidak merusak makna
aslinya. Teks dan konteks batin saling memperkaya dan tidak saling menegasikan.
Nasr Hamid berpendapat bahwa ta'wil, yang didefinisikan sebagai proses
rasional-subjektif yang bertujuan untuk memusatkan teks pada pemikiran mufasir
semata, melupakan otoritas teks dan kekayaan penafsirannya yang mempengaruhi
pemikiran mufasir. Oleh karena itu, hubungan antara pembaca dan teks bukanlah
hubungan penundukan dan ketundukan pembaca, melainkan hubungan dialektis yang
saling mempengaruhi.
C.
Contoh Penerapan Ta’wil
Ibnu ‘Arabiy dalam
Al-Qur’an
Salah satu contoh penggunaan pendekatan ishari (ta’wil)
Ibnu ‘Arabiy terdapat dalam QS. Al-Ma’arij ayat 23, yang berbunyi :
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ ﴿٢٣﴾
Artinya : “Yang mereka
itu tetap (tanpa henti)
mengerjakan shalatnya.”[16]
Yang menjadi focus dalam ayat ini adalah esensi sholat.
Adapun dalam mengkaji esensi shalat, perlu dipahami dimensi linguistik dan
syar'inya terlebih dahulu. Secara
etimologis, shalat berakar dari makna doa (al-du'a'), sementara dalam
terminologi syariat, shalat merupakan ritual khusus yang terikat dengan waktu
dan tata cara tertentu. Ibn 'Arabi menguraikan bahwa dalam dimensi lahiriah,
shalat mencakup delapan bentuk ibadah: shalat wajib lima waktu, witir di malam
hari, shalat Jumat, shalat dua hari raya, shalat gerhana, shalat istisqa',
shalat istikharah, dan shalat jenazah. Namun pemahaman Ibn 'Arabi tentang
shalat melampaui aspek ritual semata, menembus ke dimensi batiniah yang lebih
dalam.
Dalam menafsirkan QS. Al-Ma'arij
ayat 23, beliau menjelaskan bahwa orang-orang yang shalat sejatinya sedang
bermunajat kepada Allah melalui zikir. Allah menjadi teman duduk (jalis) bagi
setiap hamba yang senantiasa mengingat-Nya dalam segala kondisi. Munajat sejati
terwujud ketika seorang hamba menyadari kehadiran Ilahi dalam setiap momen
kehidupannya, menciptakan kondisi spiritual yang berkelanjutan. Merujuk pada
teladan Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa beliau
senantiasa berzikir dalam setiap kesempatan, Ibn 'Arabi menggarisbawahi
pentingnya zikir qalbi, mengingat Allah yang melampaui batasan lafaz dan
imajinasi. Bagi siapa yang mencapai tingkat zikir semacam ini, kehadiran Ilahi
menjadi pengalaman spiritual yang berkesinambungan.[17]
Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwa makna shalat
secara esoterik/hakikat adalah mengingat kepada Allah dalam setiap waktu, zikir
kepada Allah dalam setiap saat, merasakan kehadiran Allah dalam setiap keadaan
dan perbuatan. “Barang siapa yang melihat roh shalat yaitu
kehadiran bersama dengan Allah dan bermunajat dengan-Nya
terus-menerus tanpa berhenti, maka semua perbuatannya adalah shalat.”
Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang hadir bersama dengan Allah
terus-menerus tanpa berhenti sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS. Al-Ma’arij ayat 23, yaitu mereka yang
tetap (tanpa henti) mengerjakan shalatnya. Adapun makna shalat secara hakikat
ini tidak menafikan makna shalat
sebagai syariat. Menurut
Ibnu ‘Arabi, shalat
dalam syariat adalah sebagai
jalan untuk mencapai
shalat secara hakikat.
Meskipun secara syariat shalat memenuhi rukun-rukun dan syarat syari’at,
tetapi jika tidak mencapai shalat dalam makna hakikat, itu seperti
ibarat badan tanpa roh.
KESIMPULAN
Ibnu Arabi, yang nama lengkapnya adalah
Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi al-Hatimi at-Tha'i al-Andalusi, lebih
dikenal sebagai Syaikhul Akbar Ibnu Arabi. Ia lahir pada 17 Ramadhan 560 H / 28
Juli 1165 M di Mursia, Spanyol tenggara. Ia adalah salah satu tokoh terkenal
dalam dunia tasawuf. Ibnu Arabi hidup dalam masa transisi yang bergejolak di
Al-Andalus. Dia berasal dari keluarga Arab asli Bani Tha'i. Ayahnya adalah
seorang pejabat tinggi di istana al-Muwahhidun yang terkenal saleh dan
terpercaya pada masa pemerintahan Abu Ya'qub Yusuf dan al-Mu'min III, Abu Yusuf
al-Manshur. Dari pihak ibu, Ibnu Arabi memiliki paman bernama Yahya ibn Yughan
al-Shanhaji, seorang penguasa di Tlemcen. Sejak usia muda, Ibnu Arabi
menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan spiritualitas,
terutama dalam bidang sufisme. Dia memilih tasawuf sebagai jalan hidupnya.
Ibnu Arabi menggunakan pendekatan hermeneutika
sufistik melalui ta'wil dalam memahami Al-Qur'an. Ta'wil secara bahasa berarti
kembali, sedangkan secara istilah berarti mengalihkan makna lafazh yang tampak
ke makna lain yang tersembunyi di dalamnya, selama makna tersebut sesuai dengan
Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ibnu Arabi menggunakan ta'wil untuk mengungkap makna
esoterik dalam teks Al-Qur'an tanpa mengabaikan makna eksoteriknya, dan selalu
berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika menafsirkan, pengalaman intuitif
dan spiritual seorang sufi memegang peranan penting dalam proses pemaknaan dan
memudahkan upaya pengungkapan realitas. Menurutnya, teks dan konteks batin
saling memperkaya, bukan menegasikan. Contoh penggunaan ta'wil oleh Ibnu Arabi
dalam Al-Qur'an bisa ditemukan dalam QS. Al-Ma'arij ayat 23 tentang shalat, di
mana ia berusaha mengungkap makna esoterik dari ayat tersebut dengan pendekatan
ta'wil tanpa mengabaikan aspek eksoteriknya.
DAFTAR PUSTAKA
Chittick, William C. The Sufi Path of Knowledge:
Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan). 1st ed. Yogyakarta: Qalam, 2001.
Faizin, Muhammad. “Hermeneutika Sufistik-Filosofis:
Penafsiran Ibn ’Arabi Atas Kisah Nabi Musa Dan Nabi Khidir Dalam QS.Al-Kahfi
60-82.” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10, no. 1 (2021): 14–34.
https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i1.4637.
Haq, Sansan Ziaul. “Hermeneutika Sufistik: Telaah
Epistemologi Takwil Ibn ‘Arabi.” Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alquran Dan
Tafsir 4, no. 1 (2019): 1–25. https://doi.org/10.32505/tibyan.v4i1.890.
Muhammad Ibnu Sahroji. “Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi Dan
Filosof Besar Dari Spanyol.” Bincang Syariah, 2020.
https://bincangsyariah.com/khazanah/biografi-ibnu-arabi/.
Naser, Seyyed Hossen. Tiga Mazhab Utama Filsafat Islam.
IRCHISOD, 1963.
Nur, Kautsar Azhari. “Hermeneutik Sufi : Sebuah Kajian Atas
Pandangan Ibn Arabi Tentang Takwil Al-Qur’an.” Kanz Philosophia : A Journal
for Islamic Philosophy and Mysticism 2, no. 2 (2012): 309.
https://doi.org/10.20871/kpjipm.v2i2.35.
Qomari, Nur. “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi
Terhadap Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi.” UIN Sunan Ampel Surabaya., 2016.
Razzaq, Abdur. “Studi Analisis Komparatif Antara Ta ’ Wil Dan
Hermeneutika Dalam Penafsiran Al- Qur ’ an Abdur Razzaq Deden Mula Saputra.” Wardah
17, no. 2 (2016): 97–98.
Sugianto. “Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu
Arabi.” Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 1, no. 2
(2019): 179–94.
Sunnatullah. “Meneladani Semangat Ibnu Arabi: Belajar Dari
Kecil Hingga Jadi Ulama Terkemuka.” Nu Online, 2023.
https://islam.nu.or.id/syariah/meneladani-semangat-ibnu-arabi-belajar-dari-kecil-hingga-jadi-ulama-terkemuka-Qhnac.
Tafsir Web. “Surah Al-Maarij Ayat 23,” n.d.
https://tafsirweb.com/11319-surat-al-maarij-ayat-23.html.
[1]
Sansan Ziaul Haq, “Hermeneutika Sufistik: Telaah Epistemologi Takwil Ibn
‘Arabi,” Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu
Alquran Dan Tafsir 4, no. 1 (2019): 5.
[3]
Muhammad Ibnu Sahroji, “Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi Dan Filosof Besar
Dari Spanyol,” Bincang Syariah, 2020,
https://bincangsyariah.com/khazanah/biografi-ibnu-arabi/. diakses pada 28 September
2024
[4]
Sunnatullah, “Meneladani Semangat Ibnu Arabi: Belajar Dari Kecil Hingga
Jadi Ulama Terkemuka,” Nu Online, 2023,
https://islam.nu.or.id/syariah/meneladani-semangat-ibnu-arabi-belajar-dari-kecil-hingga-jadi-ulama-terkemuka-Qhnac. diakses pada 29 September
2024
[5]
Seyyed Hossen Naser, Tiga Mazhab
Utama Filsafat Islam (IRCHISOD, 1963). H. 180
[6]
Naser.
h.181
[7]
Nur Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi
Ta’wil Ibn ’Arabi” (UIN Sunan Ampel Surabaya., 2016). Hal. 2
[8]
William C. Chittick, The Sufi Path
of Knowledge: Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan), 1st ed.
(Yogyakarta: Qalam, 2001). Hal. 170
[9]
Abdur Razzaq, “Studi Analisis Komparatif Antara Ta ’ Wil Dan Hermeneutika
Dalam Penafsiran Al- Qur ’ an Abdur Razzaq Deden Mula Saputra,” Wardah 17, no. 2 (2016): 97–98.
[10]
Haq, “Hermeneutika Sufistik: Telaah Epistemologi Takwil Ibn ‘Arabi.” 310-311
[11]
Chittick, The Sufi Path of
Knowledge: Hermeneutika Ibnu Al-’Arabiy (Terjemahan).
[12]
Sugianto, “Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu Arabi,” Indonesian Journal of Islamic Theology and
Philosophy 1, no. 2 (2019): 185.
[13]
Kautsar Azhari Nur, “Hermeneutik Sufi : Sebuah Kajian Atas Pandangan Ibn
Arabi Tentang Takwil Al-Qur’an,” Kanz
Philosophia : A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism 2, no. 2
(2012): 309, https://doi.org/10.20871/kpjipm.v2i2.35.
[14]
Muhammad Faizin, “Hermeneutika Sufistik-Filosofis: Penafsiran Ibn ’Arabi
Atas Kisah Nabi Musa Dan Nabi Khidir Dalam QS.Al-Kahfi 60-82.,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Raushan Fikr 10,
no. 1 (2021): 14–34, https://doi.org/10.24090/jimrf.v10i1.4637.
[15]
Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap Metodologi
Ta’wil Ibn ’Arabi.”
[16]
“Surah Al-Maarij Ayat
23,” Tafsir Web, n.d.,
https://tafsirweb.com/11319-surat-al-maarij-ayat-23.html. diakses pada 9 Desember 2024
[17] Muhy al-Din Ibn ‘Arabi, al-Futuhat, ed. Ah}mad
Shamsuddin, Vol,V, 330. Lihat di Qomari, “Hermeneutika Imajinasi Sufistik : Studi Terhadap
Metodologi Ta’wil Ibn ’Arabi.”
Hal. 89-90
Komentar
Posting Komentar